Latest Post

Mengapa Kita Harus Menolak Kontes Kecantikan?

Written By Pallekoss on Sabtu, 27 April 2013 | 23.12


Oleh: Ishmah Rafidatuddini

26 Jumadil 'Ula 1434

SEJARAH KONTES KECANTIKAN
Kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Dan uniknya panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan anjing, bayi, dan burung. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut tersebut diuji-coba untuk manusia. 

Pagelaran kontes kecantikan di dunia tidak serta-merta mati. Pada sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali.

Kontes ini berawal dari festival lomba yang bernama Festival Bikini Contest, kemudian berganti nama menjadi Miss World. Jadi, Miss World adalah kontes kecantikan termasyhur yang tertua di dunia.

Namun beberapa tahun kemudian Eric Morley meninggal sehingga pagelaran tersebut diteruskan istrinya hingga muncul konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian).

Konsep 3B ini sebenarnya hanya untuk memoles kontes kecantikan agar diterima banyak kalangan, karena saat itu masih banyak pihak menolak kontes tersebut, bahkan hingga sekarang.

Penyebabnya tentu saja karena kontes kecantikan dinilai hanya mengekploitasi perempuan. Hingga saat inipun kontes kecantikan masih ditolak para aktivis perempuan di beberapa negara.

Setelah Inggris cukup sukses menggelar kontes kecantikan lalu sukses tersebut merambat ke Amerika meski sebelumnya publik sempat melakukan protes. Pada tahun 1952 sebuah perusahaan pakaian dalam di Amerika mencoba untuk mencari cara mempromosikan produknya dengan menggelar Miss Universe.

Tentu para peserta wajib berbusana bikini agar menarik minat pembeli pakaian dalam tersebut. Pada tahun 1996 Donald Trump membeli hak kontes tersebut untuk ditayangkan di sebuah televisi.

Sementara Indonesia baru ikut-ikutan kontes kecantikan kelas dunia pada tahun 1982 dengan mengirimkan wakilnya, yakni Andi Botenri, secara diam-diam karena di dalam negeri kontes kecantikan semacam itu masih banyak pihak yang menolak.

Tahun berikutnya, 1983, Titi DJ dikirim diam-diam untuk mewakili Indonesia dalam kontes Miss World di London Inggris. Pengiriman diam-diam tersebut dilakukan karena sebelumnya Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan.

Daoed Joesoef menilai kontes kecantikan hakikatnya adalah sebuah penipuan dan pelecehan terhadap perempuan. Kontes kecantikan hanya untuk meraup keuntungan bisnis perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, atau salon kecantikan, yang bertujuan mengeksploitasi kecantikan perempuan sebagai primitive instinct dan nafsu dasar laki-laki, serta kebutuhan akan uang untuk hidup mewah. Ia menolak habis-habisan kontes kecantikan, meski dirinya lulusan luar negeri yang berpandangan liberal.

Walaupun ada penolakan di dalam negeri, kontes kecantikan tetap digelar untuk pertama kali pada hari ulang tahun Jakarta ke 441 pada 22 Juni 1968 dengan peserta hanya 36 orang dan yang terpilih sebagai None Jakarta yaitu Riziani Malik.  
Indonesia baru memiliki kontes kecantikan secara nasional pada tahun 1992 yang digelar oleh Yayasan Puteri Indonsia dengan sponsor pabrikan kosmetik. Seperti dikatakan Menteri Daoed Joesoef, kontes kecantikan selalu berbanding lurus dengan bisnis.[1]

Pada tahun 1992, kontes kecantikan nasional bertitel Puteri Indonesia diizinkan pemerintah karena masih dianggap sopan. Namun sejak tahun 1997 kontes Puteri Indonesia dilarang Presiden Soeharto karena ajang pamer aurat itu disalahgunakan penyelenggara. Ini terjadi karena setahun sebelumnya, penyelenggara secara diam-diam menjadikan kontes tingkat nasional tersebut sebagai 'batu loncatan' untuk mengirim pemenangnya, yaitu Alya Rohali untuk mengikuti kontes Miss Universe 1996.

Suasana berubah justru ketika tahun 2000, di masa pemerintahan Gus Dur, kontes Puteri Indonesia kembali diizinkan, namun pemenangnya tidak dikirim ke kontes Miss Universe maupun Miss World. Kebijakan ini tetap dipertahankan sewaktu Megawati memimpin negara ini.

Sungguh patut disayangkan, setelah SBY berkuasa di Istana Negara, pemenang kontes Puteri Indonesia tidak dilarang, bahkan cenderung didukung untuk mengikuti kontes pamer aurat sejagad. [2]

MENGAPA HARUS DITOLAK?
Kontes kecantikan, apapun namanya, Miss World, Miss Universe, Miss Indonesia, Puteri Indonesia, None Jakarta, Putri Solo, Miss Hijab, dan seterusnya, layak untuk ditolak karena berbagai alasan.

1. Perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk Menutup Aurat dan Menahan Pandangan
"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang Mukmin: 'Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al Ahzab: 59)

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.' Katakanlah kepada wanita yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.'" (QS An Nur: 30-31)

2. Perintah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk Menahan Pandangan
Dari Buraidah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai 'Ali, janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan. Sesungguhnya bagimu hanyalah pandangan yang pertama, dan bukan yang setelahnya." (HR. At-Tirmidzi no. 2777, Abu Dawud no. 2149, hasan)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya." (HR Al Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657, dan ini adalah lafazh Muslim)

3. Tabarruj (Berhias) Seperti Orang Jahiliyah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian." (HR. Muslim no. 2128)

4. Tasyabbuh (Meniru) pada Orang Kafir
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiyallahu Anhu, dia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 'Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.'" (HR. At Tirmidzi no. 2695)

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya". (HR. Abu Daud no. 4031, shahih)

Dari Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun memasukinya." Para shahabat bertanya: "Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?" Beliau menjawab: "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (Muttafaqun 'Alaihi)

5. Simbol Penjajahan atas Budaya Indonesia dan Agama Islam
Dalam The Protocols of The Learned Elders of Zion pasal 13-14, yang dianggap data otentik rencana kaum Yahudi Zionis membentuk Tata Dunia Baru disebutkan, "Kita dirikan sebanyak mungkin tempat pembangkit maksiat. Kita juga perbanyak reklame di koran atau majalah, guna menyeru mereka agar masuk dalam arena kontes Ratu Kecantikan, atau berkedok kesenian dan olahraga. Hiburan semacam itu akan banyak melalaikan mereka dari mengurusi permasalahan kita, yang mungkin akan membuat pertentangan antara kita dan mereka. Apabila dunia telah dikuasai, maka tidak dibenarkan agama-agama selain Yahudi untuk berkembang. Karena kitalah bangsa termulia dan agama Yahudi adalah agama pilihan Allah."

Kontes kecantikan merupakan salah satu bentuk Westernisasi. Kita masih ingat seorang Puteri Indonesia 2009 asal Aceh yang pernah menyatakan minta izin untuk tidak pakai jilbab kepada ulama Aceh. Ini menunjukkan bahwa Westernisasi itu berhasil. Untuk jadi puteri tercantik, maka harus menyingkirkan dulu jilbab. Poin ini mereka sudah berhasil. Poin selanjutnya, memperkenalkan acara pamer aurat itu kepada para wanita Muslimah, agar pemikiran mereka bisa sedikit "terbuka" menerima perkembangan zaman dalam hal mode, busana, umbar aurat, dan lain-lain. Poin, berikutnya adalah harapan kepada negeri-negeri mayoritas Muslim untuk bisa menerima acara semacam ini. Memberi keluasan, agar dakwah Westernisasi ini bisa tersampaikan kepada seluruh kaum Muslimin.[3]

6. Menjadikan Perempuan sebagai Komoditas Ekonomi
Dalam pandangan Barat, mereka memandang perempuan dengan pandangan terbuka. Hingga terbuka segala-galanya, pakaiannya, dan auratnya dilihat sebagai simbol keindahan. Padahal inilah simbol kebinatangan. Ideologi kapitalisme telah menjerat perempuan sebagai mahkluk cantik yang dipertontonkan, padahal sungguh (secara tidak sadar) itu adalah simbol penghinaan.

Kontes kecantikan menjadikan perempuan dan tubuhnya sebagai barang dagangan di atas panggung, catwalk, majalah, koran, dan televisi. Kecantikan dan tubuh perempuan peserta kontes dijadikan alat promosi industri rating media, industri alat komestik, dan industri fashion.

7. Dusta Konsep 3B (Brain, Beauty, and Behavior)
Konsep 3B dalam kontes kecantikan, yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (kepribadian), adalah konsep dusta untuk membungkus kontes semacam ini agar diterima masyarakat. Kita akan bertanya-tanya, dalam kontes yang hanya dilakan beberapa hari, bagaimanakah menilai kecerdasan, kecantikan, dan kepribadian? Apakah ada tes IQ atau ujian Matematika? Tidak. Yang dinilai hanyalah 1 konsep saja, yakni kecantikan. Meskipun para juri mengatakan bahwa para kontestan dinilai dengan konsep 3B, mengapa para finalis tetaplah mereka yang cantik dalam pengertian umum saja?

8. Merusak Tatanan Sosial dan Rumah Tangga
Adalah QS, pemenang kontes kecantikan Putri Indonesia 2009. Demi memenangkan kontes kecantikan tersebut, ia mengaku sengaja melepaskan kerudung yang sebenarnya wajib dikenakannya sebagai Muslimah sekaligus wakil Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Setelah memenangkan kontes kecantikan tersebut dan menjalankan "tugas" sebagai Putri Indonesia, ia mulai lupa kehidupan normalnya sebagai seorang anak. Tenggelam dalam kesibukannya sebagai seorang Putri Indonesia, pihak keluarga pun mulai was-was dan curiga.

Pasalnya sang anak terjerat dalam dunia kesyirikan. Saat itu, QS mulai gemar semedi dan membakar dupa. Ibunya mengatakan bahwa QS melakukan ritual melepaskan belut dan kura-kura, dilepas di sungai yang mengalir, serta melepas burung pipit. Kekhawatiran pihak keluarga tidak dihiraukan oleh sang anak, bahkan ditanggapi secara negatif. Kemudian, akibat beban mental yang semakin berat, sang ibu pun harus tega memutuskan tali keluarga dengan si buah hati.

Kisah ini berulang pada Miss Indonesia 2011, AHIY. Aktifitas dan kegiatan bebas di luar rumah paska terpilihnya sebagai Miss Indonesia, membuat keluarganya resah. Apalagi sang putri masih berumur belia yaitu 21 tahun. Sang ayah sudah berusaha keras menasehatinya untuk mengembalikan si anak hilang ke rumah. Namun, tanpa diduga sikap yang ditunjukkan oleh putri tercinta di luar prediksi, karena jelas-jelas tidak menerima nasehat orang tuanya. Sehingga dengan berat hati, sang ayah pun mengumumkan secara resmi lewat media ibukota tentang pumutusan hubungan keluarga antara si anak dengan orang tuanya.[4]

9. Pintu Menuju Kemaksiatan yang Lain
Ada sebagian orang yang beralasan bahwa kontes-kontes kecantikan yang diselenggarakan di Indonesia masih dalam batas-batas kesopanan, di antaranya peserta masih diperbolehkan untuk berjilbab, tidak diselenggarakan kontes bikini, masih menjaga adab-adab ke-Timur-an, dan seterusnya. Mereka bisa memberikan argumentasi demikian, tapi mereka lupa bagaimana sejarah kontes kecantikan ini di Indonesia.

Pertama kali kontes-kontes semacam ini "hanya" untuk bertujuan untuk mencari duta wisata, kemudian tahun demi tahun berlanjut hingga akhirnya setelah kontestan dari Indonesia mengikuti kontes ini di luar negeri, wakil dari Indonesia mulai mengenakan bikini. Kemudian akhirnya, Indonesia pun menjadi lokasi dan penyelenggara kontes ini, meskipun konon tanpa bikini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam kontes-kontes kecantikan selanjutnya.

Dari Sahl bin Sa'ad berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil. Hal itu tidak ubahnya seperti sekelompok orang yang turun ke sebuah lereng gunung. Mereka masing-masing membawa sebatang ranting kayu sehingga dengan ranting-ranting kayu itu bisa mereka masak roti. Dosa-dosa kecil kapan saja di lakukan oleh seseorang ia akan menjadi celaka." (HR Ahmad)

PARIWISATA SEBAGAI ALASAN
Belakangan, sejumlah pejabat tinggi di negeri ini mengatakan bahwa penyelenggaraan kontes kecantikan di sejumlah tempat di Indonesia bertujuan untuk menarik wisatawan dalam negeri dan luar negeri. Pendapatan dari pariwisata ini tentunya akan digunakan untuk membiayai dan membangun negara Indonesia.
Cukuplah nasihat Sayyid Quthb dalam Risalah ila Ukhti Muslimah, sebagai pengingat, "Sulit sekali rasanya aku akan membayangkan bagaimana mungkin kita akan mencapai tujuan mulia dengan menggunakan cara hina. Sungguh tujuan yang mulia tidak bisa hidup kecuali dalam hati yang mulia. Lalu bagaimana mungkin hati yang mulia itu akan sanggup menggunakan cara yang hina?

Dan lebih jauh dari itu bagaimana mungkin ia menemukan cara yang hina itu? Ketika kita akan mengarungi telaga berlumpur ketepi sana, pastilah kita akan mencapai pantai dengan berlumuran lumpur pula. Lumpur-lumpur jalanan itu akan meninggalkan bekas pada kaki kita, dan pada jejak keki kita. Begitu pula kalau kita menggunakan cara hina, najis-najis itu akan menempel pada ruh kita, akan membekas pada ruh itu dan pada tujuan yang telah kita capai juga.

Sebenarnya cara dalam ukuran ruh, merupakan bagian dari tujuan. Dalam alam ruh, tidak ditemukan perbedaan dan pemisahan antara keduanya. Hanya perasaaan manusiawi sajalah yang tidak akan sanggup menggunakan cara hina untuk mencapai tujuan yang mulia. Dan dengan sendirinya pula ia akan terhindar dari teori "tujuan menghalalkan cara". Teori itu merupakan hikmah terbesar bangsa Barat, karena bangsa Barat itu hidup dengan akalnya, dan dalam keadaan demikianlah ditemukan perbedaan dan pembagian antara cara dan tujuan."

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Didik Wahyudi, Ritus Gagal Kontes Kange-Yune
[2] Muhammad Nurhidayat, Miss Universe dan Bahaya "Teroris" Moral
[3] Anshari Taslim.
[4] Masykur A. Baddal, Miss Indonesia, Antara Privasi dan Anak Durhaka


Menjadi Perempuan Berharga


Perempuan adalah tiang negara. Kalimat ini mungkin sudah tak asing lagi bagi kamu semua. Di tangan perempuan, baik buruknya suatu negara ditentukan. Laki-laki baik akan mudah menjadi buruk oleh goda rayu seorang perempuan. Tentu selalu ada pengecualian dong, khususnya bagi laki-laki yang salih maka bujuk rayu itu tak akan mempan. Tapi di sini kita berbicara tentang sesuatu secara umum. Contoh sederhana tentang kasus ini banyak di sekitar kita. Karena suatu negara itu miniaturnya ada pada institusi keluarga, maka yuk kita lihat cerminnya pada kejadian sehari-hari.


Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, di tangan ibu yang baik, seluruh keluarga bisa selamat dan menjadi contoh yang baik. Masih ingat kisah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun? Suaminya durhaka terhadap Allah, tapi Asiyah mampu bertahan menjadi sosok yang salihah. Bahkan, di tangan perempuan inilah sosok Nabi Musa selamat atas izin Allah tentunya. Padahal pada saat itu, hampir semua bayi berjenis kelamin laki-laki dibunuh semua atas perintah Firaun.
Sebaliknya, banyak kisah para pejabat yang korupsi (mayoritas mereka adalah bapak-bapak) tak bisa dilepaskan dari peran istrinya juga. Perempuan yang selalu silau dengan harta menyebabkan laki-laki berusaha memenuhinya. Seandainya si istri adalah sosok salihah, maka harta yang dibawa pulang suaminya, tak semata-mata ia terima dengan senang hati. Seharusnya ia waspada karena uang hasil korupsi berpotensi mencelakakan semuanya–di dunia, terlebih di akhirat kelak. 
Naudzubillah.

Nah, andai semua perempuan bersikap seperti ini, tentu tatanan masyarakat akan jauh lebih baik. Suami bekerja dengan tenang karena tidak terteror dengan permintaan istri yang iri dengan perhiasan tetangga. Anak pun tumbuh dengan baik karena dididik oleh sosok ibu teladan yang salihah. Indah, bukan? Sosok salihah seperti ini tak muncul secara sim salabim. Tapi ia hadir dengan pembinaan yang baik utamanya pemahaman keislaman yang baik pula. Sejak muda malah. Ya, seumuran kamu-kamu ini udah kudu cinta ilmu dan paham Islam.

Yang muda yang hura-hura
Sobat muda muslim, sebagian remaja mungkin berpikir bahwa belum saatnya mereka memikirkan masa depan. Mereka masih asik dengan dunia mereka yang tak jauh dari pacaran, window shopping alias jalan-jalan ke mal, hura-hura, pesta sana-sini dan dugem. Bila diajak serius berpikir tentang masa depan, utamanya hidup berumah tangga dan calon ibu, mereka pasti pada enggan. Anehnya, pacaran demen tapi serius menikah ogah. Inilah gambaran rusaknya kehidupan remaja kita yang maunya hura-hura tanpa disertai tanggung jawab.

Bro en Sis, yang namanya pacaran, tak ada tanggung jawab menyertai. Bila terjadi perselisihan, mereka dengan enaknya bisa pulang ke rumah masing-masing atau putus dengan enteng. Toh, tak ada yang dirugikan. Begitu selalu yang menjadi dalih. Nah, kamu kaum cewek, jangan pernah mau diperlakukan seperti ini. Nilai dirimu itu jauh lebih berharga daripada dipacari dari satu cowok ke cowok yang lain. Bila memang benar mereka itu cowok sejati, minta mereka datang untuk meminangmu dan serius menikahimu. Bila menolak, itu artinya mereka hanya menjadikan kamu sebagai 'tester' saja. Ihh…naudzubillah minddzalik!

Kamu boleh muda, tapi itu tak secara serta-merta menjadikan kamu berhak untuk berhura-hura dan menyia-nyiakan hidupmu. Masa mudamu yang cuma sekali ini (eh, masa anak-anak dan masa tua juga sekali ya? Hehehe), adalah momen untuk menempa diri menjadi sosok muslimah berkualitas. Di tanganmulah nasib bangsa ini berada. Warna bangsa ini sepuluh tahun kelak, tergantung kamu akan mewarnainya dengan apa. Masa' iya, negeri yang sudah porak poranda karena tingginya tingkat korupsi dan campur tangan luar negeri ini akan kamu biarkan terus begini? Kalau kamu masih terkategori muslimah yang punya iman dan nurani, pasti akan ada langkah berarti yang harus segera dilakukan untuk memutus rantai kebobrokan ini.

Menempa diri dengan Islam
Kebaikan itu hanya dengan Islam saja. Ini harus diyakini dengan sepenuh hati oleh para calon tonggak peradaban alias para muslimah. Sedari masih gadis, persiapan itu telah dilakukan. Bukan dengan berpacaran atau bertabaruj untuk menarik perhatian lawan jenis, melainkan dengan mengasah keimanan dan wawasan akan sosok istimewa ini.

Bila kamu berasal dari keluarga yang sudah terbasuh dengan Islam secara baik sejak kecil, maka bersyukurlah. Kamu hanya tinggal melanjutkan pembiasaan dari keluarga apa-apa yang baik itu. Tapi bila kamu mengenal Islam dengan baik baru di usia SMA atau bahkan kuliah, jangan berkecil hati. Tak pernah ada kata terlambat untuk perbaikan diri. Tekadkan dalam hatimu bahwa kamu ingin berubah dengan Islam saja sebagai tolok ukurnya.

Berubah untuk pertama kali itu tak mudah. Terapkan tombo ati yang ada lima perkaranya itu. Mulai dari membaca al-Quran plus maknanya. Akan jauh lebih baik bila kamu 'berguru' ke orang yang mumpuni dalam ilmu al-Quran. Ibarat baru belajar jalan, ada yang menuntun agar tidak tersesat. Lalu yang kedua adalah membiasakan salat malam atau tahajud. Berat memang kecuali bagi mereka yang benar-benar niat untuk mendekatkan diri pada Rabb-nya. Bila tak bisa setiap hari, mulailah dengan seminggu sekali, lalu dua kali seminggu. Begitu seterusnya hingga kamu konsisten untuk mendirikannya setiap malam.

Nah, yang ketiga adalah perbanyak zikir. Berzikir itu bukan hanya lisan tapi juga hati serta amalan. Maksudnya mulai dari mulut, hati dan perbuatan itu hanya hal-hal baik saja yang dilakukan. Keempat adalah, lakukan puasa sunah. Kalau puasa Ramadhan, sudah pasti dong ya. Kemudian yang terakhir serta yang penting adalah berkumpul dengan orang-orang yang salih. Mereka inilah yang akan mengingatkanmu bila kamu futur (down) atau lalai.

Pahami hak dan kewajiban
Bro en Sis, pembaca setia gaulislam, jadi muslimah itu  harus cerdas. Ini harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Muslimah cerdas itu adalah muslimah yang mengetahui hak dan kewajiban dirinya baik di hadapan manusia (suami, orang tua, tetangga, saudara, dll) ataupun di hadapan Allah. Karena itu muslimah wajib untuk paham hukum syara' (syariat Islam). Dengan memahami hukum syara', itu artinya muslimah telah menapakkan langkah untuk menjadi tonggak peradaban.

Tempa dirimu dengan hal-hal yang sekarang ini mulai dilupakan oleh para muslimah. Belajar memasak dengan membantu mama, misalnya. Tak usah yang ribet, cukup yang sederhana sekadar bisa membuatmu mandiri. Mencuci baju, terutama 'daleman'. Banyak loh di kalangan muslimah yang ternyata tak bisa dan tak terbiasa mencuci 'dalemannya' sendiri. Bila pun terpaksa melakukan sendiri, maka itu bisa dibilang kurang bersih. Ingat wahai muslimah, kebersihan itu sebagian dari iman. Lagipula ini juga penting karena berkaitan dengan najis tidaknya pakaian dalam itu ketika kamu pakai.

Kamu boleh, bahkan harus berprestasi di bidang keilmuan. Tapi alangkah jauh lebih indah bila kamu tidak melupakan fitrahmu yang nantinya sebagai pengatur rumah tangga. Pendidikan anak-anakmu kelak ada di tanganmu. Apakah mereka akan menjadi anak salih dan salihah atau sebaliknya. Kualitas dirimu saat ini akan menentukan kualitas anak keturunanmu kelak. Sadar yuk sadar, Non!
Banyak di antara muslimah yang mengharuskan dirinya bekerja setelah capek-capek sekolah tinggi. Padahal tujuan sekolah itu sendiri bukanlah supaya kamu mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Kembalikan niatmu bahwa bersekolah dan menuntut ilmu itu adalah perintah Allah dalam rangka mencari ridho-Nya. Karena sungguh, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan (silakan kamu baca al-Quran surat al-Mujaadilah ayat 11 ya!).

Allah telah memuliakan perempuan dengan tidak mewajibkannya menjadi pencari nafkah. Dengan kelembutannya, perempuan diberi amanah untuk mendidik anak-anak agar menjadi generasi Qurani. Di sinilah sebetulnya keberhasilan seorang perempuan itu dinilai. Bukan seberapa tinggi kedudukannya di kantor, bukan pula seberapa banyak gelar yang disandangnya. Namun sayang, banyak perempuan yang lupa. Gelombang emansipasi dan feminisme membuat muslimah lalai.

Finally…
Sobat muslimah, kemuliaan perempuan itu adalah ketika ia mempersiapkan dirinya untuk mengemban amanah sebagai tonggak peradaban. Kita rindu sosok-sosok seperti Shalahudin al-Ayubi, Muhammad al-Fatih, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Imam Syafi'i dan banyak ulama dan ilmuwan lain. Mereka menjadi sosok yang mengguncang dunia bukan tanpa sebab. Di balik mereka ada sosok hebat bernama ibu. Tidak inginkah kita nantinya memunyai anak-anak sekaliber mereka? Keren bin hebat banget tuh!

Saya ingin, sangat ingin. Bagaimana denganmu? Karena itu yuk, kita benahi diri kita sedari dini. Buatlah diri kita pantas untuk menerima amanah anak sehebat itu. Karena sesungguhnya kualiatas anak merupakan cerminan dari kualitas orang tuanya, terutama ibunya. Bila al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel yang begitu tangguh, bukan tak mungkin pintu kota Roma ada di tangan anak-anak kita kelak, insya Allah. Rasulullah saw. sendiri yang menjanjikan bahwa kota Roma menanti untuk kita taklukkan. Rasulullah saw. pernah ditanya, "Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?" Rasul menjawab, "Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel" (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

Sungguh, bekal apalagi yang kita rindukan selepas nyawa pergi dari tubuh kecuali anak-anak yang salih dan ilmu yang bermanfaat? Ketika remaja lain sibuk berhura-hura dan berbuat dosa, yuk kita juga sibuk menghadiri majelis ilmu dan menabung pahala. Yakinlah, ketika mereka nanti menangis karena anak-anaknya sulit diatur, kita akan tersenyum karena memiliki anak yang penurut terutama pada aturan Allah. Insya Allah. Semoga tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita semua. Yuk, mari kita terus berbenah! [ria fariana | riafariana@gmail.com]

Mereka Menyebutnya Seorang Putri?


Wanita lengkap dengan segala keindahan mereka memang tidak akan habis untuk diulas. Apapun yang terkait dengan kehidupan mereka memang pantas untuk dicermati. Tak terkecuali dengan hal yang akan kita bahas kali ini.  Banyak wanita-wanita yang telah menjadi korban strategi para musuh islam. hal ini karena mereka menjalankan misinya dengan begitu licik, halus dan dengan cara yang dianggap menyenangkan. Apakah mereka berhasil? bisa dikatakan begitu, karena akhirnya tak sedikit wanita yang berbondong-bondong, mencintai, memuja, bahkan meniru gaya dan pemikiran mereka tersebut.

Wanita- wanita itu bangga ketika disebut sebagai yang tercantik, serta dianugrahi "kehormatan" sebagai seorang putri. Lalu apa kabar lingkungan sekitar mereka? Banyak yang mendukung, banyak yang malu-malu dan ragu-ragu menolak seperti setan bisu, namun hanya sedikit yang dengan tegas mengatakan tidak untuk apa yang mereka lakukan tersebut.

Wahai wanita, jangan sampai pemikiran dan iman cerdas kita dibolak balikkan hanya untuk kesenangan dunia. Seorang putri yang memiliki kualitas brain yang indah, tentu juga akan mampu menjaga keindahan mereka dengan cara yang smart dan jauh dari kata kampungan. Apa guna sebuah label intelektual, kepintaran bicara, kehalusan bahasa, namun memiliki hati yang sudah terkunci dan susah memahami tentang ayat-ayat Allah?.

pun demikian tentang hal yang bernama beauty atau kecantikan yang mereka sematkan. Seorang putri itu kecantikannya terjaga, dan bukan obralan murah dimana mata jalang manapun bisa dengan mudah menikmatinya.

Jika memang mereka ingin kita menjadi seorang seorang putri, maka kita seharusnya diajarkan tentang bagaimana memiliki behaviour atau tata laku yang mengesankan. Dalam kata lain kita dipahamkan cara menjaga kehormatan sebagai wanita yang terhormat. Dan sudah pasti, kita tidak akan mungkin dibiarkan atau malah diperintahkan untuk rela menanggalkan  pakaian dan telanjang dimuka umum,  sementara manusia sejagat mengamati detail tubuh kita.

Wahai wanita, jangan terkecoh dengan para pemilik mulut sampah yang mengatakan prinsipmu terlalu keras, kolot dan ketinggalan jaman. Tanyakan pada diri kita, lalu apakah konsep modern adalah dengan menjual keindahan tubuh dan kehormatan kita sebagai seorang wanita, hanya untuk berjuluk seorang putri?. 
Lihatlah bagaimana para wanita dijaman keemasan islam dahulu menjadi teladan bagi kita. Aisyah istri Rasulullah contohnya, beliau tidak silau dengan sebutan yang tercantik, walau bahkan Rasulullah sendiri menjuluki  beliau "Humairaa" atau yang kemerah-merahan karena saking cantiknya. Beliau tetap menjaga kehormatannya, bahkan hal ini diabadikan dalam Alquran. Aisyah juga terkenal karena kecerdasannya sebagai pakar ilmu. Namun tetap saja beliau tidak lantas menginginkan popularitas dan pujian, walaupun prestasinya diakui dunia selama berabad-abad lamanya. Dan tentang perilaku keseharian beliau, tak diragukan lagi bahwa Aisyah bisa menjadi contoh untuk generasi kita sekarang ini.

Wahai wanita, sejatinya islam telah menempatkan kita semua seperti seorang putri yang senantiasa terhormat dan dihormati. Contoh kecil adalah larangan laki- laki non mahram berjabat tangan dengan kita. Apakah mungkin seorang putri dengan mudah dipegang tangannya dan dirasakan kehalusan kulitnya oleh laki- laki sembarangan? 

Karena itu yakinlah bahwa dengan aturan islam yang sebenarnya, maka kau akan menjadi putri yang sebenarnya, tempatmu tersimpan rapi, kehormatanmu terjaga, dan kaupun terpelihara. Dengan islam kau tak akan hanya menjadi putri yang sekedar predikat pemberian manusia, namun inshaallah  mendapatkan keridhoan sejati dari Allah Subhanahu Wata'ala, Tuhan yang menciptakan kita.


Mengapa Harus Kartini (Catatan Hari Kartini)


Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul "Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita". Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini.



"Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut," Kutiapan tulisan Harsa W. Bahtiar ini merupakan gugatan terhadap ditetapkannya kartini sebagai lambang Emansipasi wanita Indonesia.

Gugatan terhadap Kartini simbol kebangkitan perempuan dengan argument bahwa sebelum kartini banyak perempuan di tiap daerah Indonesia banyak melalukan hal bagi rakyatnya. Misalnya R. A. Lasminingrat penulis pertama perempuan sebelum kartini,Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Wanita tangguh dan pejuang yang lain adalah Cut Nya Dien, Cut Mutia, Malahayati Panglima angkatan Lautpertama di Aceh. Serta Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle.

Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Namun fakta para wanita hebat sebelum Kartini ini menjadi hilang dalam bayang-bayang Kartini. Lepas dari pro dan kontra Kartini saya tetap sangat mengangumi kartini karena kartini bukan hanya pejuang emansipasi lebih luas dari itu.Perjuangan Kartini merupakan sebuah gagasan yang ideal dari seorang perempuan di jaman feodalisme yang kuat. Kartini tidak saja menjadi sosok yang kongrit bagi pergerakan kebangsaan, tetapi kartini juga merupakan seorang bangsawan yang demokratis.

Kartini secara kongrit adalah seorang penulis, profesi kongrit itulah yang dimiliki kartini sebagai kekuatan minimal saat itu. Sebagai tugas sosial bagi seorang perempuan. Sastra merupakan kekuatan bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki kebebasan. Kartini tidak bergerak di ruang yang sempit semua aspek kehidupan menjadi kajian dan pemikiran kartini baik dalam tulisan maupun diskusi bersama petinggi Belanda.

Kartini hidup dalam budaya yang sangat feodal dibandingkan para perempuan di daerah lain, namun pemikiran kartini sudah jauh melampaui jamannya melalui tuisannya dibeberapa majalah dan buku yang diterbitkan oleh J.H Abendanonn "Habis Gelap Terbitlah Terang" (Door Duisternis tot Licht) Kumpulan surat-surat kartini dihimpun olrh Mr.J.H.Abendanon menurut pramoedya merupakan "one men business" atau menjadi lahan bisnis para petinggi Belanda membuat yayasan Kartini.

Mengapa harus Kartini karena kartini adalah wanita yang dekat dengan petinggi Belanda dalam hal ini para pelaku politik Etis, kartini dianggap bukan dari kalangan Islam garis keras oleh Belanda meskipun Kartini banyak belajar Al Quran secara kritis.

Suka tidak suka Kartini dimanfaatkan Belanda sebagai simbol berhasilnya kebijakan Politik Etis dan diteruskan oleh Pemerintah Indonesia. Selamat Hari Kartini Semoga hari kartini tidak identik dengan Kebaya namun identik dengan kehebatan pemikiran para perempuan. Salam

Damaskus, 173 Tahun Lalu

Written By Pallekoss on Minggu, 21 April 2013 | 18.07


"Di sini terbaring jenasah Pendeta Thomas dari Sardinia, Missionari Capuchin, dibunuh oleh orang-orang yahudi pada tgl 5 Februari 1840." Tulisan dalam bahasa Arab dan Italia yang terpahat di batu nisan Pendeta Thomas di Damaskus, Syria.

Hari Raya Purim, yang merupakan salah satu hari raya terbesar yahudi, jatuh pada tgl 15 Februari 1840. Pada tgl 5 Februari 1840 Pendeta Thomas, seorang pendeta Katholik asal Sardinia (kala itu masih masuk dalam wilayah administrasi Perancis) yang bertugas di Damaskus, hilang secara misterius setelah mengadakan perjalanan ke kawasan yang dihuni orang-orang yahudi. Pembantunya bernama Ibrahim yang mencoba mencarinya juga hilang misterius.

Konsul Perancis di Damaskus, Comte Ratti-Menton pun mulai mengadakan penyelidikan dengan bantuan kepala polisi Pasha. Setelah beberapa hari polisi pun menangkap 7 orang yahudi. Mereka semua mengaku telah membunuh Pendeta Thomas dan pembantunya, sebagian baru mengaku setelah mendapat siksaan.  Motif pembunuhan, aku mereka, adalah ritual berdarah.

Empat orang di antara terdakwa mendapat pengampunan setelah  bersedia menjadi saksi untuk mengungkap tuntas kasus pembunuhan, yaitu Mousa Abou-el-Afieh, Aslan Farkhi; Suliman, dan Mourad el Fathal. Kesaksian mereka membongkar tuntas kasus tersebut hingga menyeret 16 orang yahudi lainnya ditangkap karena keterlibatan mereka.

Beberapa terdakwa Mourad el Fathal, Mousa Abou-el-Afieh, Isaac  Arari dan Aaron Arari, menyebutkan dengan rinci bagaimana dalam upacara-upacara keagamaan yahudi dibutuhkan darah manusia yang ditampung dari sayatan di leher korban. Selanjutnya darah dikirim kepada pemimpin agama yahudi atau rabi. Oleh rabi, darah tersebut dioleskan pada roti yang disajikan dalam upacara keagamaan yang dilaksanakan pada hari-hari raya yahudi.

Atas kesaksian tersebut pemimpin agama yahudi tertinggi di Syria, Grand Rabbi Yakub el Entabi dihadapkan ke persidangan. Ia mengakui kebenaran yang dikatakan el Fathal dan kawan-kawan. Ia bahkan mengakui telah menerima darah Pendeta Thomas. Pada akhir persidangan sebanyak 14 orang yahudi dinyatakan bersalah, 10 di antaranya dijatuhi hukuman mati dan 2 orang meninggal selama persidangan.

Sampai tahap ini tidak ada yang bisa menyelamatkan para terdakwa dari hukuman. Apalagi dengan pengakuan mereka yang bisa menunjukkan dengan tepat lokasi dimana mayat Pendeta Thomas dan pembantunya dikuburkan. Namun super elit saat itu, para bankir internasional yahudi, menghendaki para terdakwa itu dibebaskan dan seperti akan kita lihat nanti, keinginan mereka terpenuhi.

SERANGAN BALIK YAHUDI
Menurut undang-undang Kekhalifahan Turki kala itu (kala itu Syria merupakan wilayah Keemiran Mesir yang merupakan bagian dari Kekhilafahan Ottoman Turki), penyiksaan dengan meng¬gunakan alat pemukul "bastinado" merupakan metode yang sah untuk membuat orang-orang yahudi mengakui kejahatan mereka.  Namun para elit yahudi internasional menggunakan cara penyiksaan itu sebagai alasan untuk mementahkan dakwaan dengan dalih bahwa para terdakwa terpaksa melakukan pengakuan bohong karena tidak tahan menanggung siksaan.

Segera setelah muncul laporan tentang penggunaan "bastinado" dalam interogasi kasus ini, media-media massa barat kala itu langsung berteriak-teriak mempertanyakan keabsahan penyidikan, mengabaikan fakta-fakta hukum yang sangat gamblang tentang keterlibatan para tersangka dalam pembunuhan. Mereka juga menyerang kredibilitas Konsul Perancis Comte Ratti-Menton yang memimpin penyidikan. Selanjutnya mereka pun memprovokasi masyarakat barat dengan sentimentisme anti-yahudi dengan tuduhan-tuduhan bahwa telah terjadi penindasan terhadap orang-orang yahudi.

Selain agitasi melalui media massa, kekuatan uang yahudi internasional juga menggalang berbagai aksi massa berjudul "demokrasi" menuntut pembebasan para tersangka pembunuhan Pendeta Thomas. Sebagai contoh di London, diadakan rapat umum yang digelar di Mansion House dimana muncul istilah "Tuduhan Berdarah" yang disematkan pada kasus penyidikan pembunuhan Pendeta Thomas. Langkah serupa juga digelar di kota-kota besar di Eropa seperti Paris, New York, Philadelphia dan kota-kota lainnya.

Selain itu uang juga menunjukkan kekuasaannya dalam kasus ini. Elit global yahudi Moses Montefiore dari Inggris dan Cremieux serta Munck dari France atas nama kaum yahudi di Eropa berangkat ke Mesir dan menemui Kadif (Emir) Mesir Mehmet Ali. Mereka menawarkan sejumlah besar uang kepada Emir dengan imbalan  pembebasan para tersangka, dan mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Setelah para tersangka dibebaskan, orang-orang yahudi langsung berseru kepada khalayak di semua tempat bahwa Kadif Mesir telah membatalkan tuntutan terhadap para pelaku pembunuhan Pendeta Thomas dan pembantunya, Ibrahim.

Namun pernyataan tertulis Emir Ali tentang pembebasan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan orang-orang yahudi itu: pembebasan para tersangka disebabkan karena Emir Ali merasa tidak berdaya menghadapi pengaruh kekuatan kaum yahudi yang sangat dominan di Eropa.

"Dan karena kekuatan mereka yang besar itu, tidaklah bijaksana jika menolak permintaan mereka," tulis Emir Ali dalam fatwa pembebasan para pelaku pembunuhan. Emir Ali tidak pernah membatalkan putusan pengadilan dan mengubah tuntutan hukum. Ia hanya mengakui pengaruh kekuasaan yahudi.
Menurut sumber-sumber tertulis, Emir menerima 500.000 piastre. Jewish Encyclopaedia (1903, Vol. IV, p. 420) menulis bahwa "ketiga orang kaya yahudi telah membuat Emir Ali mengakui ketidak-salahan para tersangka". Namun mantan rabbi Chevalier P. L. B. Drach menulis dalam buku The Harmony between the Church and the Synagogue (1844, Paris, p. 79) : "Uang telah memainkan peran penting dalam masalah ini."

Namun Kadif Mesir masih mempunyai atasan dan keputusannya belum memiliki ketetapan hukum. Maka orang-orang yahudi pun melobi Sultan Turki Abdul Majid. Sama dengan Emir Mesir, Sultan pun tidak berdaya menghadapi kekuasaan orang-orang yahudi sehingga mengeluarkan fatwa pembebasan terhadap para pelaku pembunuhan. Namun kali ini Keluarga Rothschild yang merupakan keluarga paling berpengaruh di dunia turut memainkan peran dengan gelon¬toran uang yang jauh lebih besar.

Selain itu, karena Pendeta Thomas adalah seorang pejabat Vatikan, gelontoran uang suap diduga kuat juga mengalir ke Tahta Suci di Roma.
Kekuatan elit yahudi global juga melakukan tekanan keras agar laporan-laporan tentang pengadilan tersebut tidak bisa diakses oleh publik. Sebuah buku karangan Achille Laurent yang merupakan karya ilmiah pertama yang menuliskan kasus tersebut tidak bisa lagi ditemukan. Namun Gougenot des Mousseaux berhasil menuliskan laporan tentang kasus tersebut dalam buku berjudul Le Juif, le Judaisme et la Judaisation des Peuples Chretiens yang sebagian besar isinya berasal dari karya Laurent. Buku inipun sudah tidak bisa lagi ditemukan di perpustakaan-perpustakaan publik kecuali di perpustakaan pribadi. Bahkan Gougenot sendiri kemudian tewas secara misterius tidak lama setelah bukunya selesai ditulis, 9 jam setelah menerima ancaman pembunuhan.

Sir Richard Burton, seorang petualang terkenal sekaligus Konsul Inggris di Damaskus 30 tahun setelah pembunuhan Pendeta Thomas, melakukan studi mendalam tentang kasus tersebut serta kebiasaan ritual berdarah yang dilakukan orang-orang yahudi. Hasilnya adalah karya ilmiah berupa buku berjudul The Jew, the Gypsy and El Islam, diterbitkan oleh Hutchinson tahun 1898.

Satu hal lagi, untuk menindas setiap pikiran manusia ten¬tang pembunuhan ritual yahudi, para elit yahudi internasional menciptakan istilah yang "mujarab" sebagaimana istilah "enti-semit" yang mampu membuat orang ketakutan untuk melakukan hal-hal yang menyinggung kepentingan kaum yahudi. Istilah itu adalah "blood libel" atau "fitnah berdarah".

Sumber: "Jewish Ritual Murder"; Arnold Lesse; online paper.

Catatan:
Selengkapnya tentang "Pembunuhan Ritual" dan kejahatan-kejahatan konspirasi lainnya, silakan tunggu di buku "Konspirasi Iblis" mendatang.


Meluruskan Sejarah Kapitan Ahmad ‘Pattimura’ Lussy


Fort Duurstede, benteng basis perjuangan Pattimura-Ahmad Lussy bersama teman-temannya

Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama "Ahmad Lussy", tetapi dia lebih dikenal dengan "Thomas Mattulessy" yang identik dengan nama Kristen.

Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan pengkhianatan kaum minor atas sejarah pejuang Muslim di Maluku atau Indonesia umumnya.

"Nunu oli Nunu seli Nunu karipatu Patue karinunu"

(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya(demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).
Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Kapitan Ahmad Lussy atau dikenal dengan sebutan Pattimura, pahlawan dari Maluku.

Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya.Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lussy seorang patriot yangberjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lussy juga tampak optimis.
Ahmad Lussy Pattimura (1783-1817)

Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarawan yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan "Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit".

Namun menurut M Nour Tawainella, juga seorang sejarawan, penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya zaman itu.

Di bagian lain, Sapija menafsirkan, "Selamat tinggal saudara-saudara", atau "Selamat tinggal tuang-tuang." Ini pun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang patriotik dan optimis.

Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.

Muslim Taat Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman.

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan."

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy. Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku.

Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini adalah Muslim. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku.

Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku 'Menemukan Sejarah' (yang menjadi best seller) ini mengatakan, "Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak Masjid atau Gereja? Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja."

Sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, dari sudut pandang antropologi juga kurang meyakinkan. Misalnya dalam melukiskan proses terjadi atau timbulnya seorang kapitan. Menurut Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak.

Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy
Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie).

Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda.

Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi. Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy.

Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lussy itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada data tertulis dari Belanda yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia.
Di antara petatah-petitih itu adalah sebagai berikut:
 "Yami Patasiwa
Yami Patalima
Yami Yama'a Kapitan Mat Lussy
Matulu lalau hato Sapambuine
Ma Parang kua Kompania
Yami yama'a Kapitan Mat Lussy
Isa Nusa messe
Hario,
Hario,
Manu rusi'a yare uleu uleu `o
Manu yasamma yare uleu-uleu `o
Talano utala yare uleu-uleu `o
Melano lette tuttua murine
Yami malawan sua mena miyo
Yami malawan sua muri neyo
(Kami Patasiwa
Kami Patalima
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Semua turun ke kota Saparua
Berperang dengan Kompeni Belanda
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Menjaga dan mempertahankan
Semua pulau-pulau ini
Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap
Mari pulang semua
Ke kampung halaman masing-masing
Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)
Sudah pulang-sudah pulang
Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)
Sudah pulang-sudah pulang
Ke kampung halaman mereka
Di balik Nunusaku
Kami sudah perang dengan Belanda
Mengepung mereka dari depan
Mengepung mereka dari belakang
Kami sudah perang dengan Belanda
Memukul mereka dari depan
Memukul mereka dari belakang)."
Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat.Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik. Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak.

Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.

Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lussy atau Mat Lussy.

Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina.

Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat. Dalam film Once Upon A Time in China, tokoh kharismatik ini diperankan aktor ternama Jet Li.

Dalam sejarah Indonesia, seperti halnya Pattimura, Sisingamangaraja yang orang Batak, sebenarnya juga seorang Muslim, karena mengibarkan bendera merah putih.

Ada apa dengan bendera merah putih? Mansyur merujuk pada hadits Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani. Di situ tertulis, Imam Muslim berkata:
"Zuhair bin Harb bercerita kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu Basyyar. Ishaq bercerita kepada kami. Orang-orang lain berkata: Mu'adz bin Hisyam bercerita kepada kami, ayah saya bercerita kepadaku, dari Qatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma' Ar-Rahabiy, dari Tsauban, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 'Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku bumi, timur dan baratnya. Dan Allah melimpahkan dua perbendaharaan kepadaku, yaitu merah dan putih'."

*Benteng Victoria (sekarang menjadi Markas KODIM 733 Batalyon Masariku) sebagai saksi Sejarah Kegigihan Pattimura dalam mengusir penjajah dari tanah Maluku. Di depan benteng ini Pattimura dihukum Gantung…

Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Wallahu A'lam bish Shawab. 


Napak Tilas Kejayaan Islam di Eropa



Membaca novel perjalanan "99 Cahaya di Langit Eropa" karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra, seolah mengajak pembaca meniti lorong waktu ke masa silam saat Islam mengalami kejayaan di Eropa.

Masa keemasan Islam di Eropa yang saat ini hanya menjadi bahan cerita sejarah bukanlah fiksi, namun benar-benar ada, yang dibuktikan oleh peninggalan berupa bangunan dan ornamen-ornamen, yang kini sudah menjadi komoditi turisme.

Umat Islam di tanah air masih mengenang masa keemasan itu dan menjadikan sebagai spirit kehidupan. Hal itu terlihat dari penamaan lembaga-lembaga pendidikan hingga nama anak yang berbau nama Spanyol era keemasan Islam.
Sebutlah Andalusia Islamic Center (AIC) yang dinaungi Ustadz Muhammad Syafii Antonio. Ustadz yang dikenal sebagai pakar ekonomi syariah ini tak lain ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tazkia (STIE Tazkia).

AIC berada di sisi timur Tol Jagorawi atau tepatnya berada di kawasan Sentul City, di kawasan belakang kantor pemasaran Sentul City.

Andalusia merupakan semenanjung yang terdiri atas Spanyol, Portugal, Andorra, dan Giblartar. Semenanjung ini pernah dikuasai oleh penguasa muslim.
Kemudian Global Sevilla International School, yang salah satu pemiliknya adalah Omi Komaria Madjid, istri almarhum cendekiawan muslim, Nurcholish Madjid.

Di masa pemerintahan Islam dahulu, Sevilla (Isybiliyyah) adalah salah satu kota utama peradaban, ilmu pengetahuan, dan pusat pemerintahan di Spanyol. Sevilla merupakan kota yang menyimpan sejarah kegemilangan peradaban Islam.
Tidak hanya itu nama-nama ilmuwan muslim asal Spanyol seperti Avicenna (Ibnu Sina), Averroes (Ibnu Rusyd) dan Al Farabi juga banyak dijadikan identitas lembaga-lembaga di tanah air.

Diharapkan dengan identitas-identitas tersebut mereka ingin mengulangi kembali era keemasan di masa lampau atau paling tidak menjadi spirit agar menjadi umat yang lebih maju peradabannya.
Islam memang menguasai Andalusia dalam kurun waktu yang relatif lama. Selama 781 tahun (711-1492 M) atau tujuh abad lebih, Islam berkuasa di negara gudangnya pemain sepak bola tersebut.

Selama diberi kesempatan tinggal di Wina, Austria, pasangan suami istri ini, Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra, bertekad menjelajah Eropa. Mereka menyebutnya sebagai pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di Eropa.
Mulailah mereka menyusuri peninggalan-peninggalan Islam di Vienna atau Wina (Austria), Paris (Perancis), Madrid, Cordoba, Granada (Spanyol) dan Istambul (Turki).
Wina menjadi tempat petualangan pertama pasangan ini karena di negara tempat kelahiran Adolf Hitler tersebut, suami Hanum, Rangga Almahendra, mendapat beasiswa doktoral di WU Vienna.

Wina merupakan tempat terakhir ekspansi Islam berhenti. Di kota ini terdapat pusat peribadatan umat Islam terbesar yakni Vienna Islamic Center.

Di negara ini `kita` mengetahui bahwa croissant merupakan roti buatan Austria. Roti berbentuk bulan sabit tersebut untuk merayakan kekalahan Turki di Wina.
Pasukan Islam ottoman Turki pernah menyerbu Wina di bawah pimpinan Kara Mustafa, yang kemudian diserbu balik dari Kahlenberg. 

Kara dikenang warga Austria sebagai panglima perang yang menggempur Wina dan menyebabkan banyak kerusakan dan pembunuhan.
Perjalanan penulis ke Paris, Prancis, dipertemukan dengan Marion, bule berjilbab, yang mengambil studi Islam Abad Pertengahan di Universitas Sorbonne.
Marion mengajak penulis ke sebuah bangunan besar, pantheon. Bangunan ini dulu merupakan gereja dan sekarang berubah menjadi kuburan. (halaman 134).
Pantheon ini tempat mengubur sastrawan, filsuf dan ilmuwan seperti Victor Gugo, Voltaire, Marie Curie atau Louis Braille, penemu huruf braille.

Voltaire merupakan tokoh yang kontroversial. Dia pernah membuat fragmen drama berjudul "Le fanatisme, ou Mahomet le Prophete", yang artinya "Fanatisme atau Muhammad Sang Nabi".
Fragmen yang menggambarkan karakter Nabi Muhammad secara negatif itu ternyata hanya merupakan imajinasi Voltaire dan Voltaire sendiri kemudian mengaku kalau cerita tersebut tidak berdasarkan fakta sejarah.

Anehnya lagi, kira-kira 30 tahun setelah menulis fragmen drama tersebut, dia kembali menulis esai tentang Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi toleransi.
Kehadiran novel ini akan melengkapi referensi bagi siapa pun yang ingin bepergian ke Spanyol, untuk menelusuri jejak-jejak peninggalan Islam di negeri matador tersebut sehingga tidak datang dengan pengetahuan yang hampa.

Novel yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama ini juga menunjukkan fakta kalau pemaksaan agama tidak hanya dilakukan agama tertentu saja, tetapi tindakan yang melanggar HAM ini bisa dilakukan penguasa siapapun dan dari agama mana pun.

Demikian pula dengan istilah kafir yang selama ini identik dengan penyebutan orang muslim terhadap orang non muslim, ternyata dalam sejarah Spanyol juga digunakan untuk menyebutkan umat non-Kristen.
Mohammad Boabdil merupakan sultan terakhir di Granada yang takluk kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sebelum menyerahkan kekuasaannya Boabdil membuat persetujuan dengan Isabella.

Boabdil bersedia diusir dan istana diserahkan, namun dia minta kepada Isabella agar masyarakatnya bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing baik Kristen, Islam dan Yahudi.
Sayang seribu sayang, dalam waktu sepuluh tahun setelah Granada takluk, Isabella dan Ferdinand memerintahkan pembaptisan massal kepada seluruh penduduk baik Islam maupun Yahudi (halaman 302).

Cerita itu disampaikan Luiz, tour guide yang memandu perjalanan rombongan turis Melayu asal Malaysia dan penulis novel ini. 
Yang mengesankan dari novel ini adalah pertemanan penulis dengan Fatma Pasha. Fatma adalah teman Hanum di kelas Bahasa Jerman, sebuah kursus singkat yang diselenggarakan oleh pemerintah Austria di Wina.

Dia adalah teman baru penulis semenjak pertama kali datang di Wina pada Maret 2008. Di kelas kursus tersebut hanya penulis dan Fatma yang non bule, sedangkan sebagian besar murid di tempat tersebut adalah para pendatang dari Eropa Timur.
Fatma adalah imigran Turki berusia 29 tahun. Dia di Wina ikut suaminya. Kemudian dia kembali ke Turki.

Penulis kemudian dipertemukan lagi dengan Fatma di Istambul setelah dia membalas e-mail Hanum, setelah sebelumnya dia kehilangan jejak dengan sahabatnya yang pernah mukim di Wina tiga tahun tersebut. (halaman 320).
Dari Fatma pula mereka tahu kalau lagu klasik terkenal karya komponis besar Wolfgang Amadeus Mozart "Rondo Alla Turca" terinspirasi dari kedisiplinan para militer janisari Turki pada masa lalu.

Desainer fesyen muslim itu juga mampu menggerus Islamphobia dengan menjadi "agen muslim yang baik". 
Salah satu pelanggan butik milik Fatma adalah korban teror bom di Sinagog, Istanbul, Turki pada 2003. Kebahagiaan Fatma adalah saat dia mengambil jahitan berujar, "Aku tak tahu seorang muslim sepertimu bisa menciptakan pakaian selembut dan serapi ini".

Semoga karya terbitan April 2011 ini mampu menempatkan Islam dan Eropa dalam kerangka stigma "saling menguatkan", bukan "saling berhadapan" sebagaimana diharapkan intelektual muda, Anies Baswedan.
mas template
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Islam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger